Lain Penyakit, Lain Obat: Impor Beras

Apakah impor beras adalah penyebab masalah defisit beras di Indonesia, sehingga perlu dibatasi?

Advertisements

Summary: masalah defisit beras di Indonesia terjadi karena masalah rantai pasokan (supply chain) yang buruk dan konsumsi berlebihan, bukan karena serangan beras impor. Impor beras hanya gejala dari masalah tersebut, sehingga pembatasan impor tidak akan efektif dan bisa berbahaya. Sama seperti mengobati sakit kepala akibat darah tinggi dengan paracetamol.

.

Saya seringkali takjub dengan betapa jarangnya logika sederhana dipakai dalam pembahasan isu-isu yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak. Seakan-akan hanya dengan menyisipkan frase “demi rakyat”, anda dapat membenarkan kebijakan yang miskin logika.

Untuk membuktikan pernyataan saya di atas, mari kita lihat persoalan publik yang terus berulang selama bertahun-tahun, yaitu masalah impor beras.

Selama ini, terjadi ketakutan mengenai “serangan” beras impor dari luar negeri, misalkan dari Thailand atau dari Vietnam. Narasi umumnya adalah: “Indonesia negara agraris, kok impor beras”

Kekhawatiran umum masyarakat adalah bahwa beras impor membuat beras lokal tersingkir, mematikan penghidupan petani, dan membuat kita diperbudak oleh beras Thailand atau Vietnam yang saat ini lebih murah. Dengan demikian, adalah wajar, toh, kalau pemerintah membatasi impor beras?

Masalah utama dari logika (atau ketiadaan logika) pembatasan impor beras dapat dirangkum dalam pertanyaan berikut: apa yang ingin kita capai dengan membatasi impor beras?

Mari kita lihat beberapa jawaban umum yang digunakan untuk membenarkan impor beras:

  1. Untuk mempertahankan kedaulatan pangan Indonesia
  2. Untuk memastikan agar petani lokal tidak tersingkirkan dengan beras asing
  3. Untuk mendorong produksi pangan nasional

Tanggapan saya? Bullshit. Utter nonsense.

Mari kita lihat pola produksi dan konsumsi di Indonesia dalam 5 tahun terakhir. Saya mendapat data produksi beras lewat BPS (data produksi GKG, dikali faktor konversi GKG ke beras sebesar 58%), sedangkan saya menghitung data konsumsi dengan menggunakan data konsumsi beras per kapita dari University of Arkansas serta data penduduk BPS.

Production (ton)

Consumption (ton)

2014

41,090,949.70

37,527,360.00

2013

41,342,231.22

37,173,422.65

2012

40,052,553.08

36,740,159.03

2011

38,139,004.32

36,298,610.40

2010

38,552,248.52

35,825,521.81

Jelas bahwa produksi beras nasional lebih besar dibanding konsumsi beras nasional, sehingga masalah ketahanan pangan seharusnya tidak menjadi masalah. Namun kalau anda lihat masalah beras di Indonesia, perubahan permintaan dan pasokan beras seringkali tidak terjadi dalam waktu yang bersamaan. Biasanya, terjadi surplus beras di tingkat petani pada saat panen, sehingga harga menjadi sangat murah dan membuat petani kehilangan keuntungan yang signifikan. Di luar masa panen, harga beras merangkak naik karena petani sedang tidak panen beras, yang membuat pemerintah merespon dengan menaikkan kuota beras impor. Atau mungkin beras yang diproduksi di dalam negeri banyak yang menjadi tidak layak akibat proses penyimpanan yang tidak layak. Atau mungkin beras yang diproduksi di suatu daerah surplus beras tidak sampai ke daerah defisit beras akibat jalan rusak atau kapal yang saking kecilnya tidak dapat melintasi laut saat terjadi badai.

Lebih jauh tentang masalah rantai pasokan, kita semua sudah tahu bahwa pergerakan barang di Indonesia sangat tidak efisien dan mahal. Beberapa contoh anekdot yang sering dipakai adalah bahwa pengiriman jeruk dari Pontianak jauh lebih mahal dibandingkan pengiriman jeruk dari Shanghai. Rantai pasokan yang tidak efisien, ditambah dengan jumlah perantara yang banyak dari petani hingga ke konsumen, mendorong selisih harga yang diterima petani dan dibayarkan konsumen menjadi tinggi dan mengurangi keuntungan petani. Petani yang untungnya sedikit tidak akan bisa investasi dalam peralatan modern dan meningkatkan produktivitas.

Apa yang bisa kita simpulkan sejauh ini? Masalah kekurangan beras lebih diakibatkan oleh masalah rantai pasokan (supply chain) beras yang tidak baik. Apabila proses pengiriman dan penyimpanan dapat berjalan minim hambatan, mungkin kekurangan beras yang terjadi secara temporer dan terbatas di beberapa daerah tidak perlu terjadi. Namun apakah pembatasan impor dapat menyelesaikan keterbatasan beras temporer akibat rantai pasokan beras yang tidak efisien? Tidak.

Atau mungkin saja data produksi tersebut terlalu optimistis. Bisa jadi memang produksi beras di Indonesia kurang. Tapi jangan lupa bahwa produksi puluhan juta ton bisa tetap kurang karena konsumsi yang terlalu tinggi, bukan karena produksi yang terlalu rendah. Apa buktinya? Anda bisa lihat data dari University of Arkansas tentang konsumsi beras per kapita beberapa negara. Secara rata-rata, orang Indonesia mengonsumsi beras sebanyak 148.8 kg per tahun. Bandingkan dengan Malaysia, yang memiliki tradisi kuliner paling mirip dengan Indonesia, yang hanya mengonsumsi beras sebanyak 90,7 kg per tahun, atau orang Filipina, sebesar 118,6 kg per tahun. Toh konsumsi beras mereka yang lebih kecil tidak membuat mereka kelaparan, kan? Apabila konsumsi beras per kapita Indonesia sama dengan Malaysia, Indonesia akan memiliki tambahan kelebihan beras sebesar +/- 14 juta ton, yang bisa dengan mudah menjadikan Indonesia eksportir beras terbesar di dunia! Lain kali anda pergi ke warteg dan mengambil nasi segunung, ingatlah bahwa andalah yang bertanggung jawab atas defisit beras, bukan masuknya beras impor.

Kita bisa melihat bahwa masalah beras adalah seumpama seorang anak rakus yang suka jajan di luar rumah. Walaupun di rumah anak tersebut banyak tersedia nasi, ayam, sapi, serta sayur dan buah, ternyata pembantu di keluarga tersebut tidak bisa memasak. Sang ibu, yang marah ketika tahu bahwa anak tersebut tidak makan di rumah dan malah jajan 10 porsi nasi goreng setiap harinya, memutuskan untuk mengurangi uang jajan anak tersebut agar dia tidak jajan di luar dan mau makan di rumah. Apakah dengan mengurangi uang jajan otomatis membuat anak tersebut mau makan di rumah? Tidak, karena tidak ada yang masak di rumah!

Sama seperti anak tersebut, hal yang perlu anda ingat adalah bahwa keberadaan beras impor adalah gejala dari masalah beras di Indonesia, bukan penyebab dari masalah defisit beras di Indonesia. Larangan/pembatasan impor beras tidak akan mengatasi masalah apabila terjadi defisit beras di Indonesia, dan tidak diperlukan apabila terjadi surplus beras di Indonesia (buat apa impor dalam jumlah besar apabila beras dalam negeri berlimpah?).

Lagipula, impor beras yang terbuka dapat meredam gejolak harga di dalam negeri; apabila terjadi kekurangan produksi dalam negeri secara serius, harga tidak akan naik tajam karena pasar akan langsung bereaksi dengan menambah pasokan beras impor. Saya benci mengatakan hal ini, namun lebih baik kalau 26 juta rumah tangga pertanian berkurang keuntungannya akibat harga beras yang stagnan dibanding 250 juta orang Indonesia, banyak di antara mereka adalah orang miskin perkotaan, yang harus menderita karena harga beras tidak terjangkau terkait pembatasan impor*.

Apabila anda tahu bahwa pembatasan impor beras tidak efektif dan malah berbahaya, apa gunanya anda menyalahkan impor beras apabila defisit beras itu adalah akibat ketidakbecusan serta kerakusan anda sendiri?

Karena lebih mudah untuk menyalahkan serangan asing dibanding bercermin dan membenahi diri sendiri, bukan?

.

.

*) Ingat bahwa kalau anda ingin ada beras raskin yang cukup dan dapat disediakan secara massal bagi rakyat miskin, anda harus punya beras terlebih dahulu. Subsidi sebesar apapun dari pemerintah tanpa stok beras, yang mungkin harus diimpor, akan percuma.

**) Ilustrasi petani oleh Brad Collis

2 thoughts on “Lain Penyakit, Lain Obat: Impor Beras”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s