#PrayforJakarta and Capital Outflow Nonsense

Sebelum memulai post ini, izinkan saya mengucapkan turut berbelasungkawa bagi korban yang meninggal dunia akibat serangan bom dan baku tembak di Sarinah hari ini. Mari doakan pula agar korban yang terluka bisa pulih dan pihak berwenang dapat menangkap pelaku kejahatan yang keji ini.

Namun demikian, lagi-lagi insiden seperti ini menunjukkan betapa lebih berbahanya punya pengetahuan yang setengah-setengah dibandingkan tidak tahu sama sekali. Sudah lihat pesan ini (atau sejenisnya) di grup masing-masing? (Note: saya dapat pesan ini di banyak grup. Literally)

image1

Walaupun saya bukan tipe orang yang menggunakan tagar #prayforxxxxx dalam situasi apapun (setahu saya, Tuhan tidak mengikuti akun-akun media sosial saya), ada baiknya kita meluruskan kekeliruan bahwa tagar semacam #PrayforJakarta bisa membawa nilai tukar Rupiah ke 17.000 secara sederhana.

Tagar #PrayforJakarta tidak akan berpengaruh banyak terhadap nilai tukar atau perekonomian. There, I said it. Mengapa?

1.Investor besar secara umum tidak melihat Twitter (atau media sosial manapun) untuk mengukur risiko suatu negara

Investor yang serius dan yang memiliki pengaruh di pasar (para fund manager untuk reksadana, dana pensiun, investor individual yang kaya, etc.) menggunakan riset dari sumber-sumber yang lebih terpercaya (seperti Bloomberg, Reuters, berita lokal dari Antara, Kompas, etc.). Lagipula, mereka sangat mungkin terlalu sibuk menghasilkan uang untuk punya waktu membuka Twitter, Path, atau grup WhatsApp di jam kerja, tidak seperti anda.

2. Risiko keamanan penting, namun bom teroris seperti di Sarinah bukan merupakan ancaman yang berpengaruh secara serius terhadap perekonomian

Reputasi keamanan Indonesia mungkin akan turun menyusul bom dan baku tembak di Sarinah, namun institusi asing secara umum telah memperlakukan Indonesia sebagai negara dengan risiko keamanan sedang sejak lama. Sebagai contoh, pemerintah Inggris tidak banyak mengubah pandangan mereka terhadap risiko keamanan di Indonesia menyusul bom Sarinah.

Selain itu, apabila kejadian di Sarinah hari ini tidak berulang setiap hari (misalkan seperti teror setiap hari yang terjadi di Suriah atau Afghanistan), aktivitas ekonomi tidak akan banyak terganggu. Anda akan tetap pergi ke mall di akhir pekan, pabrik akan tetap buka, and life goes on. Investor juga sepertinya sadar akan hal ini; Rupiah turun mengikuti tren mata uang Asia lainnya (bahkan pelemahan tersebut cukup rendah mengingat hari ini Bank Indonesia menurunkan suku bunga) dan pelemahan IHSG lebih ringan dibandingkan dengan pelemahan di bursa-bursa Asia lainnya.

3. Foreign Direct Investment tidak akan ditarik karena satu bom dan trending topic.

Okay, tempatkan anda di posisi, misalkan, Honda, Schneider Electric, atau Toyota. Anda sudah keluar ratusan juta dollar untuk membangun pabrik di daerah Karawang atau Bekasi, mempekerjakan puluhan ribu karyawan, serta punya target pengiriman barang yang harus diselesaikan segera. Mungkinkah anda tutup semua produksi anda dan keluar dari Indonesia hanya karena melihat #PrayforJakarta menjadi trending topic worldwide, padahal anda tahu bahwa hal yang sama masih memiliki peluang yang sangat kecil untuk terulang kembali di masa depan dan tidak akan berpengaruh pada kemampuan produksi anda?
4. Hubungan antara arus modal keluar, tingkat tabungan, dan jumlah uang beredar dalam pesan tersebut keliru besar

Pertama-tama, jumlah uang beredar secara umum ditentukan oleh bank sentral; ia tidak dipengaruhi oleh arus modal masuk/keluar. Kalaupun kalian melihat hubungan antara arus modal masuk dengan jumlah uang beredar, itu biasanya terjadi karena bank sentral mencoba menahan nilai tukar dengan meningkatkan jumlah uang beredar agar eksportir tidak rugi (nilai tukar yang tinggi membuat eksportir tidak kompetitif). Persetan dengan pernyataan bahwa arus modal keluar meningkatkan jumlah uang beredar.

Berikutnya, peningkatan arus modal keluar seharusnya ditandai dengan penurunan investasi di dalam negeri atau peningkatan jumlah tabungan nasional, jadi pernyataan bahwa arus modal keluar menurunkan jumlah tabungan nasional sangatlah absurd.

[Secara teknis, persamaan identitas arus modal keluar adalah (X-M) = (S-I), atau net export (NX) = net capital outflow (NCO). Dalam dunia nyata, NX merepresentasikan neraca transaksi berjalan/current account, dan NCO merepresentasikan neraca arus modal/financial account, sehingga current account = financial account pada balance of payment]

Dengan demikian, saya tidak perlu panjang lebar menjelaskan bahwa corollary dari pernyataan-pernyataan absurd di atas terang-terangan salah. Sebagai tambahan perspektif, pelemahan ke 17.000 adalah sekitar 18%, kira-kira mirip dengan pelemahan Rupiah tahun lalu hingga ke titik terendahnya di bulan Oktober. Ini artinya bom Sarinah (yang terbatas dampaknya di daerah Jakarta Pusat) punya efek yang sama terhadap ekonomi Indonesia dengan pelemahan ekonomi China (10x lipat Indonesia) dan Amerika Serikat (>15x lipat Indonesia) digabung. Kurang masuk akal.

Lebih absurd lagi pernyataan bahwa jumlah uang beredar dan tingkat suku bunga naik secara bersamaan, sehingga menyebabkan gagal bayar. Demand and supply, people! Kenaikan penawaran akan menurunkan harga, dalam kasus ini suku bunga. Mungkin saja keduanya naik bersamaan, tapi ini artinya terjadi kenaikan permintaan kredit, yang berarti tagar #PrayforJakarta membuat orang ingin berbelanja, membeli rumah/mobil, dan membangun pabrik (???).

Gagal bayar? Inflasi? Krisis? Nonsense. Biasakan kritisi pesan yang anda terima di jejaring sosial anda. Silakan pasang tagar #PrayforJakarta tanpa takut bahwa anda akan membuat Rupiah naik ke 17.000, walaupun saya tidak menyarankan hal tersebut, mengingat Tuhan tidak follow akun medsos anda.

Advertisements

10 thoughts on “#PrayforJakarta and Capital Outflow Nonsense”

  1. sependapat. detil banget penjelasanya dan mudah dipahami.. good point of view na..

    tambahin dikit aja yah.. diluar obrolan ttg hastag,kalo aku sih nggak bilang kalo kejadian ini gak berpengaruh ke rupiah sama ihsg. ada, tapi lebih ke pengaruh jangka pendek. panic selling. kalo ditulisin mungkin gini kali ya–>

    tragedi -> panik -> investor panik ( karena dianggap indonesia ga aman untuk berinvestasi ) -> mereka menarik dananya -> rupiah jatuh -> ribut mereda -> keadaan kembali kondisif -> saham undervalue -> investor sadar kalo fundamental ekonomi baik-baik saja -> mereka kembali berburu saham murah -> rupiah dah ihsg kembali rebound.

    kata kuncinya: kekhawatiran, panik, dan presepsi..

    pls correct me if im wrong 😂👍

  2. Well written,at first thought when i first read the messages about #Prayforjakarta it makes sense for us to stop using it so not a lot of investors would bail out on investing on this country but after some deep thinking it wouldn’t make much of a difference because 1 like you said investors doesn’t use social media as their news source and there would be tons of other reliable news sources that WILL report about this incident in Jakarta thoroughly because this is something BIG and something that news outlets doesn’t want to miss. Second of all i think we knew that in this time and age that incidents like this are unpredictable and could happen ANYWHERE its just a matter of Gods will or some might say luck that the property you invest wont get any of it and i think investors have already taken it to account.

  3. Setidaknya pembuat broadcast mulai ‘melakukan’ sesuatu untuk mencegah hal yang buru terjadi, bung. Sedangkan pembuat post ini lebih terkesan ‘menyalahkan’ masyarakat yang menyebarkan da juga hanya ingin negara ini tidak terguncang lagi perekonimiannya. So, be a smart? He he
    CMIIW

    JIKA MASYARAKAT TERDIDIK MERENDAHKAN MASYARAKAT LAIN YANG KURANG PENDIDIKANNYA, LEBIH BAIK PENDIDIKAN ITU TIDAK DIBERIKAN SAMA SEKALI. – TAN MALAKA

    1. Postingan ini memberikan informasi dan pencerahan, kok malah dibilang menyalahkan dan merendahkan. Nah gini giliran udah dikasih tau, dijelasin, malah jadi arogan mengatakan yg ngasih tau itu ngerendahin. Ckckck

  4. @^ post ini hanya mencerahkan bawa kebebasan ekspresi atas kemanusiaan lebih penting daripada mencemaskan harga ihsg yg ujung2nya ngomong bakal “ada” krisis sob..

    Mencegah sih mencegah, tapi ya jangan salah kaprah juga lah ya 😀

  5. gara2 broadcast-an tersebut malah terlihat “masyarakat indonesia lebih takut krisis daripada teroris”. 😅 😅 and I think it’s work
    broadcast yang memang tidak spenuhnya benar itu membuat situasi lebih kondusif.
    karena kebebasan berekspresi sekarang juga sudah parah & banyak yang ngawur 🙂 posting2 hoax dari orang2 tdk bertanggung jawab di angkut begitu saja utk dijadikan bahan berita yang mengatasnamakan “media” … nah ini nih yg sebenarnya ditakutkan bakal memperparah isu yg ada.

    dan terimakasih postingan agan bisa dijadikan sharing buat para pelajar/mhsiswa yg tertarik sama studi macam ini. sangat menarik dan mudah dicerna penjelasannya 🙂

  6. Makasih udah menuliskan ini. Saya dan temen2 di kantor sekuritas juga ud gatel ngeliat broadcast itu.

    Hebat ya tetiba banyak analis ekonomi dadakan yg juga mendadak popular.

    Thx pencerahannya 🙂
    #KamiTidakTakut #KamiTidakBodoh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s