Mata ganti mata (pihak ketiga)

Mengapa perusakan rumah ibadah di Tanjung Balai tidak hanya salah, namun juga adalah sesat pikir

Advertisements

Saya sebenarnya tidak suka membahas isu sosial terkini di masyarakat karena: (1) kebanyakan pengetahuan saya terspesialisasi dalam bidang makroekonomi, bukan sosiologi/antropologi dan (2) saya sudah lelah melihat kegilaan massal yang bernama masyarakat Indonesia

Seriously, apakah anda masih bisa berharap masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang cerdas dan beradab ketika kebanyakan mereka menghabiskan waktu di Facebook/Twitter/YouTube dengan hal-hal seperti:

“53.924 bukti bahwa bumi itu datar dan matahari mengelilingi bumi”,

“Pokemon adalah Anti-Christ/haram/Illuminati/Sadako/whatever-the-fuck-it-is“,

“Like bila anda sayang ibu/namboru/kokoh/pakde/cikgu anda”,

atau mengunggah gambar pseudo-inspiratif
“kalau dia lama balas chat kamu, mungkin dia udah ga sayang sama kamu :)” ???

Okay. Back to the point. Anda mungkin sudah mendengar di media massa/sosial mengenai peristiwa pembakaran rumah ibadah di Tanjung Balai, Asahan. Saya tidak ingin berkomentar tentang peristiwa tersebut per se, namun saya lebih tertarik dengan pandangan-pandangan yang mungkin bisa disimpulkan dengan tweet ini:

Hate Speech.jpg

Selain menggambarkan kecenderungan masyarakat untuk mengabaikan tata bahasa yang baik dan benar (“lakukan”, bukan “dilakukan”), tweet di atas menggambarkan paham yang dianut sebagian masyarakat di Indonesia dewasa ini, yaitu

“Apabila X melakukan sesuatu yang jahat terhadap Y, maka adalah benar bagi Y untuk membalaskan kejahatan X terhadap X atau Z, di mana Z adalah kelompok yang kebetulan memiliki identitas yang sama terhadap Z”

Apabila saya menerapkan konsep di atas dalam kasus Tanjung Balai, maka mungkin pernyataan di atas akan menjadi:

“Apabila X, etnis Tionghoa beragama Buddha, melakukan sesuatu yang jahat (for this argument’s sake) terhadap umat di sebuah masjid di Tanjung Balai, maka adalah benar bagi umat Islam di Tanjung Balai untuk membalas kejahatan tersebut terhadap X ataupun umat Buddha Tionghoa yang mungkin tidak ada sangkut pautnya dengan kasus ini”

Tentang hukum mata ganti mata, mungkin anda bisa berdebat bahwa di agama/kepercayaan tertentu, hal ini dibenarkan (kebetulan saya percaya bahwa kejahatan harus dibalas dengan kasih, namun hal tersebut tidak relevan dalam kasus ini).

Namun apakah membalaskan kejahatan yang dilakukan X (yang belum tentu benar sebuah kejahatan seperti yang dituduhkan) terhadap umat suatu masjid di Tanjung Balai kepada semua etnis Tionghoa beragam Buddha bisa dibenarkan?

Apabila hal itu dapat dibenarkan dan logika siapapun yang menganggapnya benar konsisten, maka konsekuensinya adalah:

  1.  Ad hominem/guilt by association adalah benar, atau
  2. Anda tidak perlu repot-repot memiliki prinsip tentang apa yang benar ataupun salah

Lalu anda bertanya, “loh kok gitu?”

Mari kita menghentikan sejenak pembahasan kita tentang pembakaran vihara di Tanjung Balai dan membahas masalah terorisme.

Sejak peristiwa 9/11, di mana anggota Al-Qaeda membajak pesawat dan menghancurkan menara kembar WTC, banyak masyarakat Amerika Serikat menganggap bahwa semua umat Islam adalah teroris. Pada titik ini, anda mungkin akan langsung tidak setuju (saya juga) bahwa semua umat Islam adalah teroris. Lebih jauh lagi, mungkin ada yang langsung berargumen bahwa Islam adalah agama damai. That’s fine, tapi….

Apabila anda menganggap bahwa apa yang dipercayai masyarakat Amerika Serikat (Muslim=teroris) adalah salah dan mereka sudah jatuh pada perangkap guilt by association, seharusnya anda sudah bisa melihat bahwa para perusuh di Tanjung Balai (terlebih para netizen kelas menengah ngehe di Jakarta), menggunakan logika Muslim≠teroris pada kasus Amerika Serikat, seharusnya tidak terprovokasi untuk marah atau melampiaskan kemarahan pada semua orang Buddha/Tionghoa di Tanjung Balai.

Argumen kita seharusnya berhenti di sini apabila kita tidak mendapati pendapat berikutnya:

“Mengganggu ibadah orang lain adalah salah, namun karena A mengganggu ibadah orang yang seagama dengan saya, maka saya juga berhak mengganggu ibadah A ataupun orang yang seagama dengan A”

Okay, mari kita coba gunakan logika di atas pada aplikasi lain:

  1. Menyontek adalah salah, namun karena teman saya yang paling pintar pernah menyontek saya, maka saya juga berhak untuk menyontek
  2. Korupsi adalah salah, namun karena wakil kami di DPR dan pemerintahan juga mengorupsi uang rakyat, tidak ada salahnya bagi saya untuk ikut korupsi
  3. Membunuh adalah salah, namun karena teroris yang mengatasnamakan Islam pernah membunuh masyarakat Amerika Serikat, maka Amerika Serikat boleh membalaskan hal tersebut terhadap umat Islam di Iraq/Afghanistan. Atau, untuk membuat Amerika hebat kembali, Amerika Serikat cukup menolak semua imigran beragama Islam untuk masuk ke Amerika Serikat (anda mungkin tahu siapa yang saya maksud)
  4. dll.

Suatu hal yang salah tidak membuat kesalahan lain menjadi benar, dan saya telah menghabiskan 300 kata dan mungkin 5 menit waktu anda untuk menjelaskan bahwa (1) ad hominem/guilt by association adalah salah dan (2) kebanyakan orang mungkin masih memiliki prinsip tentang apa yang benar dan salah. Dengan demikian, tindakan yang dilakukan oleh para perusuh di Tanjung Balai adalah salah, terlepas dari apapun yang dilakukan oleh orang beragama Buddha dan beretnis Tionghoa tersebut.

Di tingkat yang lebih umum, kita dapat menyimpulkan bahwa secara logis, kita tidak boleh membalaskan kejahatan orang lain kepada pihak ketiga yang kebetulan memiliki suku/agama/ras/pandangan politik. Saya tidak percaya saya harus menulis sebuah blog post untuk menekankan hal yang harusnya merupakan common sense. Alas, common sense is not that common.

Saya bisa saja mencoba menjelaskan hal di atas dengan melakukan pendekatan kasih (kasih pasti lemah lembut, kasih tidak membalaskan yang jahat dengan yang jahat, etc.) ataupun pendekatan hukum (Indonesia negara hukum, apabila anda menganggap seseorang mengganggu hak ibadah anda, anda harus melakukan proses hukum yang sesuai), namun sepertinya penjelasan-penjelasan tersebut sulit dicerna masyarakat Indonesia. Others did it, but it didn’t work.

Eh, tapi mimpi apa saya semalam hingga saya masih percaya masyarakat yang mendukung perusuh di Tanjung Balai mau mendengarkan argumen berbasis logika dan akal sehat? Yang biasa berseru-seru tentang logika dan akal sehat, kan, kaum liberal komunis ateis Yahudi freemason….

 


Catatan: menurut berita resmi, pria berinisial “M” hanya mengajukan keluhan terhadap loudspeaker masjid yang terlampau kencang. Saya tidak menganggap keluhan terhadap loudspeaker adzan sebagai ancaman terhadap kelangsungan ibadah, tapi mungkin saja beberapa orang menganggapnya demikian.

Menurut saya, keluhan M bisa saja merupakan keluhan yang dapat dibenarkan. Suara yang terlalu bising bisa mengganggu kesehatan jangka panjang orang yang terekspos secara rutin. Kesalahan ini seharusnya dapat dihindari apabila aturan pengeras suara memiliki kriteria yang jelas (mis. maksimal sekian decibel) dan ditegakkan secara konsisten.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s